Skip to content
Gelombang ghirah (semangat) dan tradisi kental ke-NU-an menyelimuti Pacitan dalam rangka Hari Santri Nasional (HSN) 2025. Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pacitan menggelar serangkaian ikhtiar (usaha) padat untuk menegaskan komitmen mereka merawat ajaran ahlussunnah wal jama’ah dan semangat khidmah (pengabdian) kepada Ibu Pertiwi. Rangkaian kegiatan dibuka dengan pelatihan Tahsin Qiroah lil Imam pada Rabu, 15 Oktober, di Masjid Agung Darul Falah. Kegiatan ta’lim (pengajaran) ini fokus melahirkan para imam dengan bacaan Al-Qur’an yang fasih (lancar) dan sesuai tajwid, sebuah amaliah (praktik keagamaan) yang menjadi ciri khas Nahdliyin.

Menjaga sanad (mata rantai) perjuangan dan tabarruk (mengharap berkah) kepada para pendahulu juga menjadi agenda krusial. Pada Senin, 20 Oktober, Pengurus MWCNU Pacitan, para kiai dan ratusan santri serta warga Nahdliyin berkumpul dalam suasana khidmat (khusyuk) untuk melaksanakan Ziaroh Maqbarah Gedhe Semanten. Aksi birrul walidain (berbakti) ini adalah bentuk ta’dzim (penghormatan) tulus kepada para masyayikh (para ulama) yang telah berjuang dalam jalan agama, dan menjaga nilai-nilai ajaran Aswaja-AnNahdyiah di Pacitan. Tradisi ini memperkuat ukhuwah (persaudaraan) antar generasi, sekaligus mengingatkan bahwa istiqomah (konsistensi) adalah kunci dalam merawat jama’ah (organisasi) dan ajaran salafus sholeh (pendahulu yang baik).
Puncak perayaan HSN 2025 MWCNU Pacitan nantinya akan dirayakan pada 22 Oktober 2025 dengan Apel Akbar bersama Pemkab Pacitan, PCNU Pacitan, dan Ormas Keagamaan Pacitan, yang dihelat di Pendopo Kabupaten. Menurut Ketua MWCNU Pacitan, K. Mutongin, S.Pd.I., menyampaikan bahwa HSN pada prinsipnya santri siaga jiwa raga membela agama, bangsa, dan negara Pancasila,” ujarnya. Hal ini menjadi penegasan bahwa HSN bukan sekadar seremonial, tetapi peneguhan kembali peran mujahid (pejuang) santri dalam mengawal marwah (kehormatan) NKRI.

Pesan utama dari seluruh rangkaian HSN ini sangat jelas: bahwa santri adalah jantung yang memastikan detak spirit kebangsaan tetap terjaga, berpegang teguh pada nilai-nilai tawasuth (moderasi) dan tasamuh (toleransi). MWCNU Pacitan berkomitmen untuk mencetak generasi yang tidak hanya alim (berilmu) dalam kitab kuning, tetapi juga memiliki adab (etika) dan akhlak karimah (budi pekerti mulia) demi kemaslahatan (kebaikan) umat. (Mukodi, Kontributor PCNU News)