PCNU PACITAN

Hubbul Wathon Minal Iman

Kajian Islam

Berakhlak dan Berilmu: Membangun Moralitas dan Integritas Calon Guru Di Era Global

Prolog*)

Dewasa ini, guru dan calon guru dihadapkan dengan beragam persoalan dan tantangan zaman yang komplek. Kompleksitas persoalan dan tantangan dunia saat ini seringkali disebut dengan VUCA. VUCA adalah akronim dari Volatility (Volatilitas/ cepat tidak terduga), Uncertainty (Ketidakpastian), Complexity (Kompleksitas), dan Ambiguity (Ketidakjelasan). Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan kondisi dunia saat ini yang ditandai dengan perubahan yang sangat cepat, tidak pasti, kompleks, dan penuh ketidakjelasan. Persoalan lainnya adalah di internal kelembagaan, yakni implementasi kurikulum merdeka belajar yang belum ‘jelas’ postur idealitasnya, kebijakan anggaran pendidikan, minimnya sarana-prasarana, dan minimnya kesejahteraan dan perlindungan terhadap profesi guru.

Beragam persoalan dan tantangan tersebut di atas, tentunya menjadi catatan tebal bagi para guru dan calon guru di Fakultas Ke-guru-an dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Guru di satu sisi dituntut untuk menjawab tantangan dan mengatasi problem-problem internal, di sisi lainnya mereka harus terus menerus mengembangkan diri, meningkatkan kompetensi, sekaligus mawas diri. Dalam konteks ini, artikel ini akan difokuskan pada pembahasan urgensi perpaduan akhlakul karimah dan ilmu pengetahuan bagi seorang guru. Selamat membaca, semoga tercerahkan!

Tantangan dan Landasan Profetik Ke-Guru-an Di Era Global

Era globalisasi membawa perubahan yang sangat signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, tak terkecuali dunia pendidikan. Guru, sebagai ujung tombak dalam proses pembelajaran, menghadapi berbagai tantangan yang kompleks dalam menjalankan tugasnya. Berikut adalah beberapa tantangan utama yang dihadapi guru di era global; (1) pesatnya perkembangan teknologi (Artificial intelligence (AI), facebook, twitter, whatsaap, telegram, blogger, canggihnya moda transportarasi, fisibilitas jasa pengiriman, mudahnya akses layanan informasi, dan sejenisnya); (2) tergerusnya nilai-nilai moral dan budaya ketimuran masyarakat; (3) massifnya judi online, slot online, game online dan lain sejenisnya; (4) pesatnya gaya hidup 3 f (fun, food, fashion) generasi Z; (5) bergesernya publik figur generasi Z menuju idola populer; (6) terkikisnya jati diri bangsa dan keadaban; (7) lunturnya nilai-nilai nasionalisme dan hilangnya budaya gotong royong, dan lain sebagainya.

Beragam persoalan tersebut di atas, tentunya menjadi tantangan yang serius bagi pendidik dan calon guru masa kini dan masa yang akan datang. Nilai-nilai pendidikan profetik ala Kutowijoyo masih sangat relevan dijadikan landasan ‘peredaman’. Utamanya, menguatkan simpul-simpul keguruan dan memperkokoh semangat ‘mengabdi’ sebagai calon guru bagi fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. Secara normatif-konseptual, paradigma pendidikan profetik Kuntowijoyo didasarkan pada Surah Ali-Imran ayat 110:

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ

Artinya: “Engkau adalah umat yang terbaik yang diturunkan/dilahirkan ditengah-tengan untuk menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari kemunkaran, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (Kuntowijoyo 2004).

Menurut Kuntowijoyo, ayat tersebut, terdapat tiga pilar utama yang mendasari munculnya pendidikan profetik yaitu; (1) amar ma’ruf (humanisasi) yang mengandung pengertian memanusiakan manusia; (2) kemudian nahi munkar (liberasi) mengandung pengertian pembebasan; dan (3) tu’minunu billah (transendensi), dimensi keimanan manusia (Masduki 2017). Tiga konsep tersebut, dapat menjadi landasan ideal bagi para guru dan calon guru untuk memperkokoh Character Building CPL (Capaian Profil Lulusan) calon guru.

Ketiga konsep tersebut, dikatakan oleh Kuntowijoyo sebagai The Chosen People mensyaratkan adanya sebuah tantangan untuk bekerja lebih keras dan ber-fastabiqul khairat. Ayat diatas juga menegaskan akan adanya aktivisme atau praksisme gerakan sejarah. Bekerja keras dan ber-fastabiqul khairat ditengah-tengah ummat manusia (ukhrijat Linnas) berarti bahwa yang ideal bagi Islam adalah keterlibatan ummat dalam percaturan sejarah kemanusiaan. Dengan demikian, para guru dan calon guru di berbagai fakultas keguruan dan ilmu pendidikan harus bermental baja, pantang menyerah dan menjadi manusia pembelajar tanpa batas.

Berakhlak dulu, Berilmu Kemudian

Guru dimasa depan, harus mendahulukan akhlakul karimah dan adab (budi pekerti) daripada ilmu pengetahuan. Mengapa demikian? Islam sebagai agama Samawi dengan tegas menjawab kenapa akhlak didahulukan daripada ilmu. Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW secara tegas menempatkan akhlak sebagai fondasi utama bagi seorang muslim (Mustamin Fattah 2024). Dalam Alquran, kata akhlak disebutkan sebanyak dua kali, keduanya dalam bentuk mufrad (QS. Asy-Syu’ara (26):137; Al-Qalam (68): 4). Sementara dalam al-Hadist kata-kata ini diulang beberapa kali, baik dalam bentuk mufrad (akhlaq), maupun dalam bentuk jamak (khuluq) (H. Syabuddin Gade 2019).

Secara etimologis, akhlak berasal dari kata “khuluq” yang berarti tabiat atau sifat. Akhlak adalah karakter atau perilaku seseorang dalam berinteraksi dengan sesama manusia, alam, dan Tuhan. Menurut Ibnu al-Atsir dalam an-Nihayah menjelaskan hakikat akhlak sesungguhnya adalah:

حقيقة الخُلُق أنه لصورة الإنسان الباطنة – وهي النفس وأوصافها ومعانيها-بمنزلة الخَلْق لصورته الظاهرة

Artinya: “Akhlak secara hakikat diciptakan untuk konstruksi batin manusia, tentang jiwa, pelbagai sifat dan esensi kejiwaan tersebut. Hal ini tak ubahnya bagai tubuh yang diciptakan sebagai konstruksi jasmani mereka”. (Ahmad Dirgahayu Hidayat 2023).

Di sisi yang sama, definisi tersebut dikuatkan oleh bnu Maskuwaih yang juga dikutip oleh Muhammad Abdullah Darraz secara eksplisit sebagai berikut:

لخُلُق حال للنفس داعية لها إلى أفعالها من غير فكر ولا روية

Artinya: “Akhlak merupakan suatu kondisi yang mendorong seseorang untuk melakukan segala aktivitas secara natural, tanpa memerlukan nalar dan perencanaan”. (Ahmad Dirgahayu Hidayat 2023).

Di dalam Al Mu’jam al-Wasit disebutkan defenisi akhlak sebagai berikut: “Akhlak ialah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikirannya dan pertimbangan”. Akhlak didefinisikan sebagai situasi jiwa yang mengajak pada perbuatan yang dilakukan secara spontan, tanpa harus berpikir atau pertimbangan yang matang dan seksama (Ibnu Maskaweh 421 H/1030 M).

Imam al-Ghazali mendefinisikan ahklak dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin-nyaَ adalah suatu perangai (watak, tabiat) yang menetap kuat dalam jiwa seseorang dan merupakan sumber timbulnya perbuatan-perbuatan tertentu dari dirinya, secara mudah dan ringan, tanpa perlu dipikirkan atau atau direncanakan sebelumnya. (Imam Al-Ghazali Ihya ‘Ulumuddin-nya). Ketika tabiat tersebut menimbulkan perbuatan yang bagus menurut akal dan syara` maka hal tersebut dinamakan ahklak baik. Dan apabila hal tersebut menimbulkan perbuatan yang jelek maka disebut ahklak yang jelek (Hadi Yasin 2019).

Lebih dari itu, akhlaq al-karimah merupakan inti ajaran agama. Sering juga disebut, ad-din al-muamalah, yakni agama ialah interaksi. Interaksi dengan Tuhan (Allah SWT) dan semua ciptaan-Nya, yang meliputi benda mati, manusia, hewan, dan tumbuhan. Disebutkan, bahwa tingkat religiusitas seseorang akan meningkat seiring dengan kualitas interaksi hubungannya. Perilaku dan moralitas seseorang terhadap lawan bicaranya menunjukkan kualitas hubungan interaksi mereka (Fairuz, Nata, and Khalimi 2024).

Dengan demikian, atribut akhlak dalam Islam mencakup sikap-sikap seperti jujur, amanah, sabar, rendah hati, dan adil. Lebih lanjut, (Ahmad Dirgahayu Hidayat 2023) menjelaskan ketika akhlak dimaknai sebagai watak dasar manusia, maka adab sesungguhnya adalah ekspresi yang lahir dari watak tersebut. Ia hanyalah perangkat lahiriah semata, tidak lebih. Sebab, adab di sini bekerja berdasarkan warna akhlak. Jika akhlak berwarna merah, adab pun bekerja dengan warna merah, dan begitu seterusnya.

Lantas apakah yang dimaksud dengan adab? Adab istilah lainnya adalah suluk, demikian menurut Abdullah Darraz. Istilah suluk dalam bab ini tentu berbeda dengan suluk dalam perbincangan para ahli tarekat. Suluk dalam pandangan mereka, seperti yang terekam dari kitab Bina’ al-Mujtama’ al-Islamy karya Nabil as-Samaluthi adalah sebagai berikut:

وهذا ينبغي ألا يشتبه علينا الفرق بين الخُلُق والسلوك. فالخُلُق كما قلنا أمر معنوي وهو صفة النفس وسجيتها. أما السلوك فهو أسلوب الأعمال ونهجها وعادتها، وما هو إلا مظهر الخُلُق ومرآته ودليله

Artinya: “Terkait ini, alangkah baik jika kita memahami perbedaan antara akhlak dan suluk. Seperti penjelasan yang lalu, akhlak adalah perkara abstrak. Ia adalah sifat dan watak alami setiap jiwa. Sedang suluk-dalam pasal ini-adalah corak amal, pijakan dan tata kramanya. Sehingga, suluk hanyalah ekspresi akhlak, yang menjadi cermin dan indikator dari akhlak tersebut.” (Ahmad Dirgahayu Hidayat 2023).

Sementara itu, kata ilmu berasal dari ilm, a’ina-lam-mim yang bermakna pengenalan, kesadaran, pengingat, pengertian, pemahaman, intelektual, hikmah dan sebuah tanda seorang dikenal (Ummah 2019). Lebih dari itu, ilmu dalam pandangan agama Islam sangat dihargai dan dipandang sebagai cahaya yang menerangi kehidupan seseorang, baik ilmu agama maupun ilmu dunia. Bahkan, secara tegas Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya panjang lebar menjelaskan betapa penting ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia di muka bumi ini, berikut penjelasannya:

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ

Artinya: “Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia akhirat, maka hendaknya dengan ilmu.” (H.R. Bukhori-Muslim)

Bahkan, kata ilmu dalam Ensiklopedi Alquran disebut sebanyak 778 kali. M. Quraish Shihab menyebutkan bahwa kata ilmu dengan berbagai bentuknya terulang 845 kali dalam Alquran. Hanya saja, ‘ilm disebut dengan kata jadiannya sebanyak 744 kali. Rinciannya; (1) ‘ilm disebut sebanyak 105 kali; (2) ya’lamu sebanyak 215 kali; (3) ‘ilm disebut sebanyak 105 kali; (4) yu’lamu sekali; (5) ‘aliim atau ‘ulama 163 kali; (6) ‘alim delapan belas kali; (7) ma’luum tiga belas kali; (8) ‘alamiin sebanyak 73 kali; (9) ‘alam tiga kali;(10) a’lam 49 kali; (11) i’lam sebanyak 31 kali; (12) ‘allam empat kali; (13) a’lama dua belas kali; (14) yu’limu enam belas kali; (15) ‘ulima tiga kali; (16) mu’allam sekali; (17), dan (18) ta’allama dua kali (Yassir Hidayat 2021). Dengan demikian, keberadaan akhlak dan ilmu pengetahuan sangat penting dimiliki oleh manusia secara pari purna agar hidupnya selamat (bahagia) di dunia dan di akhirat.

Mengapa Akhlak dan Ilmu Penting bagi Calon Guru?

Seorang guru tidak hanya sekedar pemberi materi pelajaran, tetapi juga menjadi role model bagi para peserta didik. Oleh karena itu, kombinasi antara akhlak yang mulia dan ilmu yang luas menjadi fondasi yang kuat bagi seorang guru (calon guru). Akhlak dan ilmu saling melengkapi. Keduanya, bagaikan dua sisi mata uang, satu dan lainnya tidak dapat dipisahkan. Seorang guru yang berilmu tanpa akhlak yang baik, ilmunya tidak akan bermanfaat bagi dirinya, maupun orang lain. Sebaliknya, seseorang yang berakhlak baik tanpa ilmu yang memadai, akan kesulitan dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik.

Sekadar contoh reflektif, banyak guru yang memiliki kepandaian secara pengetahun nir akhlakul karimah menjadi masalah dalam kehidupan. Tindakan asusila yang dilakukan oleh guru terhadap anak didiknya. Pada tanggal 12 Juli 2022 seorang guru di Kota Waringin Barat Kalimantan Tengah melakukan tindak asusila pada seorang siswa  yang masih di bawah umur. Peristiwa yang hampir sama juga dilakukan oleh salah seorang guru, di Sumatera Barat, Kota Padang Pajang yang ditangkap karena melakukan pelecehan seksual sesama jenis terhadap anak didiknya. Tak hanya itu, kasus atau tindakan asusila yang hampir sama juga terjadi pada anak usia 15 tahun di Kabupaten Bekasi yang diperkosa oleh gurunya pada saat dalam proses belajar-mengajar di sebuah Madrasah (Achmad As’ad Abd. Aziz 2022).

Gambaran lainnya, contoh tindakan amoral telah dilakukan oleh sejumlah ilmuwan pada dekade 1946-1947. Susan Reverby mengungkapkan Amerika Serikat dan Guatemala mensponsori eksperimen yang kejam. Eksperimen dilakukan dengan menginfeksi para tahanan dan pasien rumah sakit jiwa dengan penyakit sifilis. Penelitian dilakukan untuk menguji bahan kimia yang mencegah penyebaran penyakit tersebut. Mereka yang menderita sifilis kemudian diberi penisilin. Lebih lanjut, Reverby menjelaskan bahwa tidak ada catatan tentang persetujuan dari para korban eksperimen tersebut sebelum dilakukan tindakan medis terlebih dahulu (Aisyah 2021).

Di sisi lainnya, contoh birokrat yang memiliki sederet gelar dan pengetahuan yang mendalam juga seringkali melakukan tindakan amoral, diantaranya tindakan korupsi yang tak terhitung jumlahnya. Laporan Indonesia Corruption Watch (ICW) menunjukksn bahwa ada 791 kasus korupsi sepanjang 2023, dengan jumlah tersangka 1.695 orang. Diky Anandya, Peneliti ICW menyebutkan, jumlah itu meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya yang hanya 579 kasus dengan jumlah tersangka 1.396 orang. Kerugian negara ditaksir sekitar Rp Rp 28,4 triliun, walau jumlahnya lebih rendah dibanding 2022 yang mencapai 42,7 triliun (Ade Ridwan Yandwiputra 2024).

Beragam contoh buruk tersebut di atas, seolah menegaskan bahwa akhlakul karimah dan ilmu pengetahuan idealnya menyatu dalam diri setiap orang, tak terkecuali para guru dan calon guru. Falsafah Ki Hadjar Dewantara, “ing ngarsa sung tulodo, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” seolah menegaskan tentang urgensi perpaduan akhlak dan ilmu secara koheren dalam diri seorang guru (Mukodi 2022). Ing ngarsa sung tulodo: di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik. Contoh dan teladan tidak mungkin terlaksana, jika pada diri seorang guru tidak ada akhlakuk karimah dan ilmu pengetahuan yang mumpuni. Ing madya mangun karsa: di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan inisiatif atau semangat. Inisiatif tentunya tidak muncul dengan sendirinya, ia hadir atas kepekaan dan pengetahuan. Kepekaan itu sendiri keluar dari atribut adab yang berasal daripada akhlakul karimah. Begitu pula dengan tut wuri handayani: dari belakang, seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan. Dorongan dan arahan sesungguhnya berasal dari kepedulihan dan cinta kasih, yang merupakan nilai-nilai akhlakul karimah dan keluhuran ilmu pengetahuan.

Secara eksplisit Ki Hadjar Dewantara juga menawarkan beberapa konsep yang sejatinya harus dimiliki oleh seorang guru, diantaranya konsep Trihayu, Trisakti Jiwa, Trilogi Kepemimpinan dan Tripantangan. Konsep-konsep tersebut, tentunya sangat efektif untuk menguatkan profil akhlak guru yang ideal. Penjabaran konsep tersebut adalah sebagai berikut; (1) guru harus mengantarkan peserta didiknya menuju suatu kesempurnaan hidup; (2) guru yang bermoral adalah guru yang memiliki karakter trihayu, artinya guru yang mampu memelihara keselamatan diri, manusia, dan bangsany; (3) guru yang etis dan bermoral ialah guru yang berusaha mengamalkan trisakti jiwa, yakni cipta, rasa, dan karsa; (4) guru yang etis dan bermoral ialah guru yang mampu mengimplementasikan jiwanya untuk menjadi pemimpin dengan mengamalkan ajaran “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”; (5) guru harus menghindari dan menolak tripantangan dalam hidupnya, yaitu terjebak secara negatif terhadap harta, tahta, dan wanita (Achmad As’ad Abd. Aziz 2022). Jadi, konsep dan strategi tersebut di atas, jika dilaksanakan secara komprehensif dan paripurna akan membentuk profil guru ideal di masa kini dan masa depan.

 Simpulan

Guru ideal sejatinya guru yang didalam dirinya momot aklakhul karimah yang paripurna dan ilmu pengetahuan yang luas. Akhlakul karimah dan ilmu pengetahuan harus padu secara koheren pada diri seorang guru dan calon guru. Konsep Kuntowijoyo pendidikan profetik yang terdapat pada Surat Ali Imron Ayat 110 dapat dijadikan landasan penguatan profil keguruan, ajarannya tentang; (1) amar ma’ruf (humanisasi) yang mengandung pengertian memanusiakan manusia; (2) kemudian nahi munkar (liberasi) mengandung pengertian pembebasan; dan (3) tu’minunu billah (transendensi). Alternatif lainnya, konsep Trihayu, Trisakti Jiwa, Trilogi Kepemimpinan dan Tripantangan Ki Hadjar Dewantara pun dapat dijadikan strategi penguatan karakter calon guru di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

*) Penulis Mukodi, Sekretaris Umum PCNU Kab. Pacitan. Artikel ini disajikan pada Studium General Di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) pada tanggal 17 Desember 2024

 Daftar Pustaka

 Achmad As’ad Abd. Aziz, Ach. Nurholis Majid. 2022. “Kritik Budaya Moralitas Pendidikan Sekolah Prespektif Neil Postman Dan Azyumardi Azra.” IQRO: Journal of Islamic Education 5(1): 33–52.

Ade Ridwan Yandwiputra. 2024. “ICW Catat Sepanjang 2023 Ada 791 Kasus Korupsi, Meningkat Singnifikan 5 Tahun Terakhir.” TEMPO. https://www.tempo.co/hukum/icw-catat-sepanjang-2023-ada-791-kasus-korupsi-meningkat-singnifikan-5-tahun-terakhir-57431.

Ahmad Dirgahayu Hidayat. 2023. “Mengenal Perbedaan Akhlak Dan Adab Dalam Islam.” NU Online: 1. https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/mengenal-perbedaan-akhlak-dan-adab-dalam-islam-SxAMT.

Aisyah, Novia. 2021. “9 Eksperimen Paling Kejam Di Dunia, Jangan Ditiru Ya.” DetikEdu: 1. https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5733030/9-eksperimen-paling-kejam-di-dunia-jangan-ditiru-ya.

Fairuz, Ahmad, Abuddin Nata, and Khalimi Khalimi. 2024. “Akhlak Guru Dan Murid Menurut Ibnu Jama’ah Dan KH Hasyim Asy’ari.” Jurnal Syntax Admiration 5(4): 1377–95.

  1. Syabuddin Gade. 2019. Membumikan Pendidikan Akhlak Mulia Anak Usia Dini. Banda Aceh: PT. Naskah Aceh Nusantara.

Hadi Yasin. 2019. “Ayat-Ayat Akhlak Dalam Al-Quran: Membangun Keadaban Menuju Kemuliaan Peradaban.” Tahdzib Al-Akhlaq: Jurnal Pendidikan Islam 2(2): 1–15. https://uia.e-journal.id/Tahdzib/issue/view/61.

Kuntowijoyo. 2004. Islam Sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, Dan Etika. Jakarta: Teraju.

Masduki, Masduki. 2017. “Pendidikan Profetik: Mengenal Gagasan Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo.” TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama 9(1): 1.

Mukodi, Mukodi. 2022. “Konsep Pendidikan Berbasis Multikultural Ala Ki Hadjar Dewantara.” Jurnal Penelitian Pendidikan 1(April): 683–96.

Mustamin Fattah. 2024. “Akhlak Lebih Utama Daripada Ilmu.” Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda: 1. https://www.uinsi.ac.id/2024/09/16/akhlak-lebih-utama-daripada-ilmu/.

Ummah, Masfi Sya’fiatul. 2019. “Konsep Ilmu Menurut Ibn Qoyyim Al-Jawziyyah.” Medina-Te: Jurnal Studi Islam 6(1): 1–14. http://scioteca.caf.com/bitstream/handle/123456789/1091/RED2017-Eng-8ene.pdf?sequence=12&isAllowed=y%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.regsciurbeco.2008.06.005%0Ahttps://www.researchgate.net/publication/305320484_SISTEM_PEMBETUNGAN_TERPUSAT_STRATEGI_MELESTARI.

Yassir Hidayat. 2021. “Kata Ilmu Dan Derivasinya Dalam Al-Qur’an.” tanwir.id. https://tanwir.id/kata-ilmu-dan-derivasinya-dalam-al-quran/.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *